Dmedia - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilaksanakan selama bulan Ramadan 2026, khususnya di daerah dengan mayoritas penduduk Muslim. Distribusi makanan akan tetap dilakukan pada jam sekolah, namun peserta diperbolehkan membawa pulang makanan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.
“Ya untuk Ramadan sama seperti tahun lalu ya. Jadi untuk daerah yang mayoritas Muslim,” kata Dadan kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Ia menegaskan penyesuaian dilakukan agar program tetap berjalan tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.
Dadan menjelaskan jenis makanan yang dibagikan selama Ramadan dirancang agar memiliki daya tahan lebih lama. “Makanan akan dibagikan pada jam sekolah tapi makanannya dibawa ke rumah dan tahan lama, ya tahan 12 jam dari mulai disiapkan sampai dia dikonsumsi pada saat buka,” ujarnya.
Selain memastikan keberlanjutan program selama Ramadan, Dadan juga memaparkan realisasi anggaran MBG sepanjang 2025. Hingga Senin (19/1/2026), realisasi anggaran program tersebut telah mencapai Rp17,398 triliun, mendekati Rp18 triliun. Dana operasional harian tercatat sebesar Rp855 miliar yang disalurkan langsung dari kas negara ke satuan pelayanan pemenuhan gizi nasional (SPPG) di hampir seluruh provinsi.
“Dana operasional harian, hari ini itu sudah mencapai 855 miliar dan realisasi anggaran sampai hari ini sudah mendekati 18 triliun,” kata Dadan dalam rapat di DPR. Ia menambahkan, sekitar 70 persen anggaran digunakan untuk pembelian bahan baku, 20 persen untuk biaya operasional, dan 10 persen untuk insentif mitra program.
BGN menegaskan tidak ada dana negara yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur SPPG. “Perlu saya sampaikan bahwa 21.102 SPPG yang sudah berdiri dan operasional 100 persen dibiayai mitra. Jadi belum ada uang negara di dalam pembangunan infrastruktur BGN untuk SPPG,” ujar Dadan.
Dadan juga melaporkan perkembangan program MBG sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025. Menurutnya, jumlah penerima manfaat meningkat signifikan dari sekitar 570 ribu orang pada awal peluncuran menjadi 55,8 juta penerima. Jumlah SPPG juga meningkat menjadi 21.102 unit per 19 Januari 2026.
“Program pada tahun 2026 sudah kita mulai dan kita lakukan launching untuk tahun 2026 pada 8 Januari,” kata Dadan, seraya menyebut kapasitas jangkauan penerima manfaat kini mencapai lebih dari 80 juta orang. Data resmi terbaru terkait target akhir penerima manfaat masih akan diperbarui oleh BGN.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan program MBG berpotensi mendorong ekonomi rakyat melalui penyerapan produk lokal. “Bayangkan kalau ada 82,9 juta penerima manfaat… ini akan menggerakan ekonomi rakyat,” kata Zulkifli Hasan. Hingga Selasa siang, belum ada klarifikasi resmi terkait perbedaan angka target penerima manfaat yang disebutkan dalam paparan program.