Dmedia - Fraksi Partai Gerindra DPR RI mengecam insiden di Lebanon Selatan yang menewaskan tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB, serta mendorong investigasi menyeluruh dan langkah de-eskalasi konflik.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPR RI, Budisatrio Djiwandono, menyatakan kecaman atas rangkaian insiden yang menimpa personel Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Insiden tersebut terjadi di wilayah Lebanon Selatan dan mengakibatkan tiga prajurit TNI gugur dalam dua peristiwa terpisah.
Salah satu korban, Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, meninggal dunia setelah serangan proyektil menghantam posisi pasukan UNIFIL di Ett Taibe. Sementara itu, dua prajurit lainnya, Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, gugur akibat ledakan yang mengenai konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Haiyyan.
“Fraksi Partai Gerindra mengecam rangkaian serangan Israel di Lebanon Selatan yang memperparah eskalasi konflik. Serangan terhadap pasukan perdamaian di bawah mandat PBB merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional serta Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701,” kata Budisatrio dalam pernyataan tertulis.
Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut semakin menjauhkan upaya perdamaian dan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Pernyataan ini menegaskan posisi politik Fraksi Gerindra yang menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap norma internasional yang melindungi pasukan penjaga perdamaian.
Selain mengecam, Budisatrio juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI tersebut. Ia menyebut kehilangan ini sebagai pukulan besar bagi Indonesia, mengingat para korban sedang menjalankan tugas negara dalam misi internasional.
“Atas nama Fraksi Partai Gerindra, kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Indonesia telah kehilangan tiga putra terbaik bangsa yang gugur ketika menjalankan tugas negara,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk segera menghentikan eskalasi militer dan kembali ke jalur diplomasi. Menurutnya, penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara menjadi kunci dalam meredakan ketegangan di kawasan tersebut.
“Kami mendorong seluruh pihak untuk segera menghentikan eskalasi militer, menghormati kedaulatan negara dan hukum internasional, serta mengutamakan negosiasi untuk mencapai perdamaian,” tambahnya.
Dalam konteks tindak lanjut, Budisatrio menegaskan pentingnya investigasi menyeluruh dan transparan terhadap insiden tersebut. Ia menyatakan Fraksi Gerindra mendorong Kementerian Luar Negeri untuk bekerja sama dengan UNIFIL guna memastikan proses penyelidikan berjalan objektif dan memberikan keadilan bagi keluarga korban.
Ia juga menyampaikan dukungan terhadap langkah pemerintah Indonesia yang meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menggelar rapat darurat Dewan Keamanan. Langkah ini dinilai penting untuk merespons situasi yang berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.
“Kami akan terus berkomunikasi dengan Kemlu untuk memastikan seluruh rangkaian investigasi bersama UNIFIL dapat terlaksana secara menyeluruh dan transparan serta mampu membawa keadilan bagi keluarga korban,” kata Budisatrio.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai hasil awal investigasi atau perkembangan situasi keamanan di lokasi kejadian.